BAB I
A. Orientasi Kesehatan Mental
1. Orientasi Klasik
Seseorang
dianggap sehat bila ia tidak mempunyai kelakuan tertentu, seperti ketegangan,
rasa lelah, cemas, rendah diri atau perasan tak berguna, yang semuanya
menimbulkan perasaan “sakit” atau rasa “tak sehat” serta mengganggu efisiensi
kegiatan sehari-hari. Aktivitas klasik ini banyak dianut di lingkungan
kedokteran. Pengertian sehat mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk
digunakan dalam konteks psikologi. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat
seperti ini banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang
yang mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan
realitas.
2. Orientasi Penyesuaian Diri
Orang dianggap sehat secara psikologis bila ia mampu mengembangkan dirinya
sesuai dengan tuntutan orang-orang lain serta lingkungan sekitarnya. Dengan
menggunakan orientasi penyesuaian diri, pengertian sehat mental tidak dapat
dilepaskan dari konteks lingkungan tempat individu hidup. Oleh karena kaitannya
dengan standar norma lingkungan terutama norma social dan budaya, kita tidak
dapat menentukan sehat atau tidaknya mental seseorang dari kondisi kejiwaannya
semata. Seseorang yang dalam masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau
sakit mental bisa jadi dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain.
Artinya batasan sehat atau sakit mental bukan sesuatu yang absolut.
3. Orientasi Pengembangan Potensi
Seseorang dikatakan mencapai tarap kesehatan jiwa, bila ia mendapat kesempatan
untuk mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan, ia bisa dihargai oleh
orang lain dan dirinya sendiri.
B. Konsep Sehat
konsep sehat didefenisikan sebagai suatu keadaan dan kualitas dari organ
tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan
yang dimiliki. Konsep sehat dan kesehatan merupakan dua hal yang hampir sama
tapi berbeda.Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang
yang dinamis antara bentuk dan
fungsi tubuh dan berbagai faktoryang berusaha mempengaruhinya. menurut
White (1977), sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa
tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan
kelainan. Sementara konsep WHO tahun 1974, menyebutkan Sehat adalah keadaan
sempurna dari fisik, mental, sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau
kelemahan.
Sehat dapat dikatakan, sutatu kondisi normal (baik) secara fisik , emosi (EQ),
intelektual (IQ)l, spritual (SQ) dan sosial. Dari pernyataan diatas sudah
bisa didapat tentang dimensi sehat, berikut pemahamannya:
- Fisik
Dikatakan sehat bils asecara fisiologis (fisik) terlihat normal tidak cacat,
tidak mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu apapun.
- Emosi
Orang yang sehat secara emosi dapat terlihat dari kestabilan dan kemampuannya
mengontrol dan mengeskpresikan perasaan (marah, sedih atau senang) secara tidak
berlebihan. Mampu mendisiplinkan diri.
- Intelektual
Dikatakan sehat secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan
dalam kategori yang baik mampu melihat realitas. Memiliki nalar yang baik dalam
memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
- Spiritual
Sementara orang yang sehat secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu
kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka secara rohani dianggap sehat karena
pikirannya jernih tidak melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas
kewajaran sehingga bisa berfikir rasional.
- Sosial
Sehat secara social dapat dikatakan mereka yang bisa berinteraksi dan
berhubungan baik dengan sekitarnya, serta mampu untuk bekerja sama.
C. Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Sejarah perkembangan kesehatan mental pertama kali itu pada jaman nenek moyang
yang mengalami gangguan mental seperti halnya homo sapiens sendiri . Mereka
mengalami kecelakaan dan demam yang merusak mental . Jadilah manusia yang
dengan rasa putus asa selalu berusaha buat menjelaskan tentang penyakit mental.
Zaman dahulu orang menduga bahwa penyebab penyakit mental adalah setan, roh-roh
jahat dan dosa-dosa. Oleh karena itu para penderita penyakit mental dimasukkan
dalam penjara-penjara di bawah tanah atau dihukum dan diikat erat-erat dengan
rantai besi yang berat dan kuat. Namun, lambat laun ada usaha-usaha melalukan
perbaikan dalam mengatasi orng-orang yg mengalami gangguan mental.
Sejarah kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran ini terutama
karna masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat
diamati dan terlihat. Hal ini lebih karna mereka sehari-hari hidup bersama
sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal yang
biasa bukan lagi sebagai gangguan. Kesehatan mental ungkapan ini diciptakan
oleh W. Swetster di tahun 1843, dan penuh dengan konten yang sebenarnya melalui
"pribadi" pengalaman berkumpul oleh ahli asuransi Beers Amerika.
Tujuannya adalah untuk memastikan perawatan yang lebih manusiawi dari sakit
mental, cara bagaimana tujuannya ini dilakukan dalam konteks yang lebih luas
melampaui domain perawatan kesehatan tidak bisa disebut hanya kejiwaan.
Kesehatan mental mulai berkembang sejak perang dunia ke II .Sejak awal perang
dunia ke II kesehatan mental bukan lagi suatu istilah yang asing bagi orang - orang
.Dalam bidang kesehatan mental kita dapat memahami bahwa gangguan mental itu
telah terjadi sejak awal peradaban manusia dan sekaligus telah ada upaya-upaya
mengatasinya sejalan dengan peradaban. Namun seiring jaman yang semakin maju
dan perkembangan ilmu pengetahuan Philippe Pinel di Perancis dan William Tuke
dari Inggris, mengadakan perbaikan dalam menanggulangi orang-orang yang
terganggu mentalnya.
D. PENDEKATAN KESEHATAN
MENTAL
A. Pendekatan
Orientasi Klasik
Sehat fisik artinya tidak ada keluhan fisik. Sedang sehat mental artinya
tidak ada keluhan mental. Dalam ranah psikologi, pengertian sehat seperti ini
banyak menimbulkan masalah ketika kita berurusan dengan orang-orang yang
mengalami gangguan jiwa yang gejalanya adalah kehilangan kontak dengan
realitas. Orang-orang seperti itu tidak merasa ada keluhan dengan dirinya meski
hilang kesadaran dan tak mampu mengurus dirinya secara layak. Pengertian sehat
mental dari orientasi klasik kurang memadai untuk digunakan dalam konteks
psikologi. Mengatasi kekurangan itu dikembangkan pengertian baru dari kata
‘sehat’. Sehat atau tidaknya seseorang secara mental belakangan ini lebih
ditentukan oleh kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Orang yang
memiliki kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungannya dapat digolongkan
sehat mental. Sebaliknya orang yang tidak dapat menyesuaikan diri digolongkan
sebagai tidak sehat mental.
Kesehatan Mental : terhindarnya individu dari gejala gangguan
jiwa(neurosis) dan gejala penyakit jiwa( psikosis), berupa simptom-simptom
negatif yang menimbulkan rasa tidak sehat,dan bisa mengganggu efisiensi yang
biasanya tidak bisa dikuasai individu.
Kelemahan dari Orientasi ini adalah :
- Simptom-simptom bisa terdapat juga pada individu normal
- Rasa tidak nyaman dan konflik bisa membuat individu berkembang dan
memperbaiki diri.
- Sehat atau sakit tidak bisa didasarkan pada ada atau tidaknya keluhan.
b. Pendekatan Orientasi Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri (Menninger,1947) : perubahan dalam diri yang diperlukan untuk
mengadakan hubungan yang memuaskan dengan orang lain/lingkungan.
Individu bermasalah : apabila tidak mampu menyesuaikan diri terhadap
tuntutan dari luar dirinya, dengan kondisi baru serta dalam mengisi peran yang
baru.
Normal dalam Orientasi ini :
a) Normal secara statistik; yaitu apa adanya.
b) Normal secara normatif : individu bertingkah laku sesuai budaya
setempat.
Dengan menggunakan orientasi penyesuaian diri,
pengertian sehat mental tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan tempat
individu hidup. Oleh karena kaitannya dengan standar norma lingkungan terutama
norma sosial dan budaya, kita tidak dapat menentukan sehat atau tidaknya mental
seseorang dari kondisi kejiwaannya semata. Ukuran sehat mental didasarkan juga
pada hubungan antara individu dengan lingkungannya. Seseorang yang dalam
masyarakat tertentu digolongkan tidak sehat atau sakit mental bisa jadi
dianggap sangat sehat mental dalam masyarakat lain. Artinya batasan sehat atau
sakit mental bukan sesuatu yang absolut. Berkaitan dengan relativitas
batasan sehat mental, ada gejala lain yang juga perlu dipertimbangkan. Kita
sering melihat seseorang yang menampilkan perilaku yang diterima oleh
lingkungan pada satu waktu dan menampilkan perilaku yang bertentangan dengan
norma lingkungan di waktu lain. Misalnya ia melakukan agresi yang berakibat
kerugian fisik pada orang lain pada saat suasana hatinya tidak enak tetapi
sangat dermawan pada saat suasana hatinya sedang enak. Dapat dikatakan bahwa
orang itu sehat mental pada waktu tertentu dan tidak sehat mental pada waktu
lain. Lalu secara keseluruhan bagaimana kita menilainya? Sehatkah mentalnya?
Atau sakit? Orang itu tidak dapat dinilai sebagai sehat mental dan tidak sehat
mental sekaligus.
Dengan contoh
di atas dapat kita pahami bahwa tidak ada garis yang tegas dan universal yang
membedakan orang sehat mental dari orang sakit mental. Oleh karenanya kita
tidak dapat begitu saja memberikan cap ‘sehat mental’ atau ‘tidak sehat mental’
pada seseorang. Sehat atau sakit mental bukan dua hal yang secara tegas
terpisah. Sehat atau tidak sehat mental berada dalam satu garis dengan derajat
yang berbeda. Artinya kita hanya dapat menentukan derajat sehat atau tidaknya
seseorang. Dengan kata lain kita hanya bicara soal ‘kesehatan mental’ jika kita
berangkat dari pandangan bahwa pada umumnya manusia adalah makhluk sehat
mental, atau ‘ketidak-sehatan mental’ jika kita memandang pada umumnya manusia
adalah makhluk tidak sehat mental. Berdasarkan orientasi penyesuaian diri,
kesehatan mental perlu dipahami sebagai kondisi kepribadian seseorang secara
keseluruhan. Penentuan derajat kesehatan mental seseorang bukan hanya
berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan
perkembangan seseorang dalam lingkungannya.
c . Pendekatan Orientasi Pengembangan Potensi
c . Pendekatan Orientasi Pengembangan Potensi
Kesehatan mental : pengetahuan dan perbuatan yang
tujuannya untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi dan bakat yang
ada semaksimal mungkin sehingga membawa pada kebahagian diri dan orang lain
serta terhindar dari gangguan penyakit jiwa . Tokohnya : Allport , Maslow ,
Roger Fromm
Kriteria
mental sehat dalam orientasi ini :
1. Punya pedoman normatif pribadi ( bisa memilih apa yang baik dan menolak yang buruk)
2. Menunjukan otonomi independen , mawas diri dalam mencari nilai-nilai pedoman.
1. Punya pedoman normatif pribadi ( bisa memilih apa yang baik dan menolak yang buruk)
2. Menunjukan otonomi independen , mawas diri dalam mencari nilai-nilai pedoman.
Seseorang dikatakan mencapai taraf kesehatan jiwa,
bila ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan potensialitasnya menuju
kedewasaan, ia bisa dihargai oleh orang lain dan dirinya sendiri. Dalam
psiko-terapi (Perawatan Jiwa) ternyata yang menjadi pengendali utama dalam
setiap tindakan dan perbuatan seseorang bukanlah akal pikiran semata-mata, akan
tetapi yang lebih penting dan kadang-kadang sangat menentukan adalah perasaan.
Telah terbukti bahwa tidak selamanya perasaan tunduk kepada pikiran, bahkan sering
terjadi sebaliknya, pikiran tunduk kepada perasaan. Dapat dikatakan bahwa
keharmonisan antara pikiran dan perasaanlah yang membuat tindakan seseorang
tampak matang dan wajar.
Sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan Hygiene mental
atau kesehatan mental adalah mencegah timbulnya gangguan mental dan gangguan
emosi, mengurangi atau menyembuhkan penyakit jiwa serta memajukan jiwa. Menjaga
hubungan sosial akan dapat mewujudkan tercapainya tujuan masyarakat membawa
kepada tercapainya tujuan-tujuan perseorangan sekaligus. Kita tidak dapat
menganggap bahwa kesehatan mental hanyasekedar usaha untuk mencapai kebahagiaan
masyarakat, karena kebahagiaan masyarakat itu tidak akan menimbulkan
kebahagiaan dan kemampuan individu secara otomatis, kecuali jika kita masukkan
dalam pertimbangan kita, kurang bahagia dan kurang menyentuh aspek individu,
dengan sendirinya akan mengurangi kebahagiaan dan kemampuan sosial.
Referensi :
- Basuki,Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta : Universitas Gunadarma.
- Schultz. Psikologi pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius
- Puspitawati, I. Dwi Riyanti, Hendro Prabowo.(1996). Seri Diktat Kuliah Psikologi Umum I. Jakarta. Gunadarma.
- www.psychologymania.com/2012/09/pengertian-penyesuaian-diri.html
- http://21juli1991.blogspot.com/2013/03/tugas-kesehatan-mental-1.html
- http://idb4.wikispaces.com/file/view/uf4018.2.pdf
- http://prestila.blogspot.co.id/2014/03/kesehatan-mental-orientasi-kesehatan.html
- http://sharenruth.blogspot.co.id/2013/03/konsep-perkembangan-pendekatan.html




Senin, 07 Maret 2016