DESAIN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI
 

1.     MERANCANG SISTEM UNTUK MENGOLAH INFORMASI DALAM PSIKOLOGI

Pada penulisan sebelumnya saya telah menjelaskan tentang apa itu sistem informasi psikologi. Lalu untuk mengingatkan kembali saya akan membahas sedikit tentang apa itu sistem informasi psikologi.

Sistem informasi psikologi adalah suatu sistem atau tata cara yang merupakan kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyimpan data mengenai perilaku terlihat maupun tidak terlihat secara langsung serta proses mental yang terjadi pada manusia sehingga data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu seperti tujuan penelitian. Contoh nyata dari pengaplikasian SIP dalam kehidupan adalah penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi).

Misalnya pada penelitian pengembangan instrument Tes Psikologis berbasis TIK dikatakan bahwa dalam bidang klinis tes psikologi dimanfaatkan untuk kepentingan diagnosis prognosis maupun terapi pada gangguan-gangguan pribadi. Adanya perkembangan teknologi dibidang kesehatan yaitu dibuatnya alat tes psikologi yang diberi nama GTLC (Group Tes of Learning Capacity).



2.    MENGGUNAKAN KOMPUTER SEBAGAI ALAT BANTU PENGOLAH INFORMASI DALAM PSIKOLOGI

Dengan perubahan zaman, konseling dapat dilakukan dengan komputer yang dibantu dengan jaringan internet. Sudah banyak sekali jasa konseling online yang ada di jejaring sosial. Hal-hal yang sudah saya jelaskan diatas merupakan salah satu contoh penggunaan sistem informasi dalam psikologi saat ini. Dimana, ilmu psikologi juga berkembang berkat adanya perkembangan yang sangat pesat dari ilmu komputer itu sendiri. Contoh misalnya penggunaan dalam bidang psikologi yaitu penggunaan laboratorium psikologi dimana didalamnya menggunakan prinsip ilmu komputer. Contoh lain mungkin dengan sistem konseling online yang sekarang ini banyak beredar dan banyak hadir di situs jejaring sosial. Hal-hal diatas merupakan sebagian contoh penggunaan sistem informasi dalam bidang psikologi saat ini. Dimana, ilmu psikologi juga berkembang berkat adanya perkembangan yang sangat pesat dari ilmu komputer itu sendiri.

Selain itu pada bidang psikologi yang menggunakan komputer sebagai media dalam pekerjaanya contohnya dalam psikologi kognitif yang menggunakan sebuah aplikasi CP3 untuk mengetahui pola pikir manusia. Dan bisa juga sebagai media dalam mengukur bagaimana IQ dan juga sebagai alat pengolah data. Salah satu aplikasi yang sering digunakan dalam psikologi adalah program SPSS, aplikasi SPSS ini merupakan salah satu program komputer yang dapat digunakan dalam bidang psikologi. SPSS adalah program komputer yang dipakai untuk analisis statistika. SPSS ini sebagai software statistik pertama kali yang dibuat pada tahun 1968 oleh tiga mahasiswa Stanford University yang dioperasikan pada komputer mainframe. Selain itu, antara tahun 1994 sampai dengan tahun 1998, SPSS melakukan berbagai kebijakan strategis untuk pengembangan software statistik, dengan mangakuisisi software house terkemuka seperti SYSTAT. Inc, BMDP Statistical Software dll.


Sumber :



Sarwono, W. S. (2010). Pengantar psikologi umum. Jakarta: Rajawali Pers.

Silvia Harlena. Arsitektur Komputer.

Solso, R., Maclin, O. H., dan Maclin, M.K. (2007). Psikologi Kognitif. Jakarta : Erlangga

Wikipedia. (2013). Kognisi.  http://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi.

date Selasa, 01 Januari 2019

Pengertian Elemen Sistem Informasi

Dewasa ini kemajuan teknologi berkembang sangat pesat, hampir semua manusia menggunakan suatu sistem untuk mendapatkan informasi yang dicari. Informasi yang kita cari seringkali sudah dapat dan tersedia dengan mudahnya di zaman sekarang ini. Tapi sebelumnya yang akan saya bahas di sini adalah sistemnya yaitu elemen-elemen sistem dan karakteristik sistem.
Menurut (Togar, 1994) Elemen sistem adalah bagian terkecil sistem yang dapat diidentifikasi. Input – output adalah kerangka yang bermanfaat untuk mengevaluasi operasi sistem (analisis proses) dan menentukan alternatif – alternatif untuk peningkatan performansi sistem. Elemen sistem adalah bagian terkecil sistem yang dapat didentifikasikan. Jika sebuah sistem cukup besar yang terdiri dari subsistem-subsistem, maka elemen sistem terdapat pada tingkatan yang paling rendah yang dapat dikategorikan sebagai individu.

1. Elemen-elemen sistem informasi

a. Tujuan, setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda (Widiastuti, 2014)
b. Mekanisme Pengendalian dan Umpan Balik, Mekanisme pengendalian (control mechanism) diwujudkan dengan menggunakan umpan balik (feedback), yang mencuplik keluaran. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.
c. Input (Masukan), suatu sistem yang masuk dan selanjutnya menjadi bahan yang di  proses. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah sedangkan yang tidak mentah seperti informasi.
d. Proses, merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.
e. Output (Keluaran), keluaran sistem atau hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan. Contoh komputer menghasilkan panas yang merupakan sisa pembuangan, sedangkan informasi adalah keluaran yang dibutuhkan (Hutahaean, 2014)

2. Karakteristik sistem

Menurut Fatta (2007) untuk memahami atau mengembangkan suatu sistem, maka perlu membedakan unsur-unsur dari sistem yang membentuknya.
Berikut adalah karakteristik sistem yang dapat membedakan suatu sistem dengan lainnya :
a. Memiliki komponen (component). Kegiatan atau proses dalam suatu        sistem yang mentransformasikan input menjadi bentuk setengah jadi (output). Komponen bisa berupa subsistem dari sebuah sistem.
b.    Memiliki Batasan (boundary). Penggambaran dari suatu elemen atau unsur mana yang termasuk di dalam sistem dan mana yang di luar sistem
c.  Lingkungan (environment). Segala sesuatu diluar sistem, lingkungan yang menyediakan asumsi, kendala dan input terhadap suatu sistem.
d.  Penghubung (interface). Tempat di mana komponen atau sistem dan lingkungannya bertemu atau berinteraksi
e. Masukan (input). Sumber daya (data, bahan baku, peralatan, energi) dari lingkungan yang dikonsumsi dan dimanipulasi oleh suatu sistem.
f. Keluaran (outpu). Sumber daya atau produk (informasi, laporan, dokumen, dan tampilan) yang disediakan untuk lingkungan sistem oleh kegiatan dalam suatu sistem
g. Pengolahan sistem (process). Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan mengubah masukan menjadi keluaran
h. Sasaran atau tujuan. Tujuan yang ingin dicapai oleh sistem, akan dikatakan berhasil apabila mengenai sasaran atau tujuan.

3. Model sistem informasi psikologi

Suatu sistem terintegrasi yang mampu menyediakan informasi yang bermanfaat bagi penggunanya. Ada juga yang menyebutkan sebuah sistem terintegrasi atau sistem manusia-mesin, untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen dalam suatu organisasi. Secara umum, bisa disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi – informasi yang berhubungan dengan psikologis. Penggunaan sistem informasi dalam psikologi dimungkinkan karena banyak hal dalam dunia psikologi yang masih bisa dikelola dengan sentuhan komputerisasi. Misalnya penggunaan tes psikologi secara virtual, penggunaan teknologi eye-tracking dan yang terbaru adalah teknologi virtual reality yang memungkinkan seseorang untuk mengurangi bahkan menyembuhkan gangguan psikologis seperti ADHD, PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), dan beragam fobia. Contoh nyatanya adalah banyaknya tes – tes psikologi yang dulu diberikan secara manual sudah bisa dikomputerisasi seperti Papikostik, hal ini merupakan kerjasama antar bidang ilmu computer dan psikologi yang pada akhirnya bermanfaat untuk peningkatan kualitas tes psikologi itu sendiri.

Daftar Pustaka

Fatta, H. A (2007).  Analisis dan perancangan sistem informasi. Jakarta: Andi Offset

Hutahaean, J. (2014). Konsep sistem informasi. Yogyakarta: Deepublish

Widiastuti, R (2014). Komponen elemen-elemen sistem. Halaman 1 :http://raniwidiastuti.blogspot.co.id/2014/11/komponen-elemen-elemen-sistem.html diakses 22 oktober 2016

Oktaviani,S.(2012).Sistem informasi psikologi.https://sintawonnie.wordpress.com/2012/10/16/sistem-informasi-psikologi/diakses 22 oktober 2016

date



TUGAS KE 1

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI
A. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa latin (systema) dan bahasa yunani sustema adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi , materi atau energi. Istilah ini sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu set entitas yang berinteraksi, di mana suatu model matematika seringkali bisa dibuat.
Pengertian sistem menurut beberapa ahli :
  1. Menurut Richardus Eko Indrajit (1999) kata sistem mengandung arti kumpulan dari komponen-komponen yang memiliki unsur keterkaitan antara satu dan yang lainnya.
  2. Menurut Blanchard (2000) mendefinisikan sistem sebagai sekumpulan dari elemen-elemen yang mempunyai fungsi bersama untuk mencapai satu tujuan.
  3. Menurut Law (2004) mendefinisikan sistem sebagai sekelompok komponen yang beroperasi secara bersama- sama untuk mencapai tujuan tertentu atau sekumpulan entitas yang bertindak dan berinteraksi bersama-sama untuk memenuhi suatu tujuan akhir yang logis.
  4. Menurut L. James Havery menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
Dari beberapa definisi sistem menurut para ahli yang telah saya jelaskan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem adalah sekumpulan atau keseluruhan dari komponen-komponen, elemen-elemen  yang beroperasi secara bersama-sama dan mempunyai hubungan fungsional  untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan secara logis dan rasional.
B. Pengertian Informasi
Informasi adalah data yang telah diproses menjadi bentuk  yang memiliki arti bagi penerima dan dapat berupa fakta , suatu nilai yang bermanfaat. Jadi ada suatu proses trasformasi data menjadi suatu informasi = input – proses – output.
Pengertian informasi menurut beberapa ahli :
  1. Menurut Joner Hsugian informasi adalah sebuah konsep yang universal dalam jumlah muatan yang besar, meliputi banyak hal dalam ruang lingkupnya masing-masing dan tertekam pada sejumlah media.
  2. Menurut Zulkifli Amsyah (2005) informasi adalah data yang sudah diolah kedalam bentuk tertentu sesuai dengan keperluan.
  3. Menurut Hendi Haryadi (2009) informasi dapat didefinisikan sebagai hasil pengolahan data dalam suatu bentuk yang berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan.
  4. Menurut Raymond Mcleod (dalam Haryadi, 2009) mengatakan bahwa informasi adalah data yang telah diolah menjadi  bentuk yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan pada saat ini atau pada masa yang akan datang.
Dari beberapa definisi informasi menurut para ahli yang telah saya jelaskan didapat ditarik kesimpulan bahwa informasi adalah data yang didalamnya terdapat input-proses-output yang meliputi banyak hal serta menggambarkan kejadian-kejadian yang nyata untuk pengambilan keputusan dan bermanfaat bagi manusia pada masa uang akan datang.
C. Psikologi
Psikologi berasal dari perkataan yunani yaitu “psyche” yang artinya jiwa, dan “logos” yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya, dengan singkat disebut ilmu jiwa.
Pengertian psikologi menurut beberapa ahli :
1. Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 13 (1990), psikologi adalah ilmu    yang mempelajari perilaku manusia dan binatang baik yang dapat dilihat secara langsung maupun yang tidak dapat dilihat secara langsung.
2. Menurut Dakir (1993), Psikologi membahas tingkah laku manusia dalam  hubungannyaqdengan lingkungannya.
3. Menurut Muhibbin Syah (2001), psikologi adalah ilmu pengetahuan yangmempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik selaku  individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Tingkah laku terbuka adalah tingkah laku yang bersifat psikomotor yang meliputi perbuatan berbicara, duduk, berjalan dan lain sebgaianya, sedangkan tingkah laku tertutup meliputi berfikir, berkeyakinan, berperasaan dan lain sebagainya.
4. Menurut Heru Basuki (2008), Psikologi adalah ilmu pengetahuan (ilmiah) yang mempelajari perilaku, sebagai manifestasi dari kesadaran proses mental, aktivitas motorik, kognitif, dan juga emosional. Hasil uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses-prosen mentalnya.
Dari beberapa definisi menurut para ahli yang telah saya jelaskan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dan proses-proses mentalnya. baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak ataupun tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.
D. Sistem Informasi
Sebelum saya menjelaskan pengertian sistem informasi psikologi, saya akan menjelaskan sistem informasi dari beberapa tokoh :
1. Menurut Erwan Arbie (2001) sistem informasi adalah sistem didalam
suatuorganisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolaham transaksi    harian, membantu dan mendudkung kegiatan operasi, bersifat manajerial dari suatuorganisasi dan membantu mempermudah penyediaaanlaporan yang diperlukan.
2. Menurut O’Brien (2005 sistem informasi adalah suatu kombinasi teratur
Ataupun dari orang, hardware (perangkat keras), software (perangkat lunak), computer networks dan data communication (jaringan komunikasi), dan database (basis data) yang mengumpulkan, mengubah dan menyebarkan informasi didalam suatu bentuk organisasi.
3. Menurut Leitch Rosses (dalam Jugiyanto, 2005) sistem informasi adallah suatu sistem didalam organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengelolah transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak lua tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan.
4. Menurut Robert A. Leitch dan K. Roscoe  (dalam jugiyanto, 1999) sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operas, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan yang diperlukan.
5. Menurut Gordon B. Davis (19991), sistem informasi adalah suatu sistem yang menerima masukan data dan instruksi, mengolah data tersebut sesuai dengan instruksi dan mengeluarkan hasilnya.
Berdasarkan uraian penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan pengertian SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI adalah suatu sistem yang menyediakan  informasi-informasi yang berkaitan dengan ilmu psikologi yang dapat dijadikan untuk meningkatkan pengguna dan pengambilan suatu keputusan terhadap penelitian, perencana, dan pengelolaan. Contoh dari sitem informasi psikologi yang berbasis komputer adalah situs theinkblot.com, pada situs ini terdapat penyajian tes Online Rorschach online. Hardware dan software sebagai mesin sedangkan prosedur dan manusia sebagai pelaku, dan deata berfungsi sebagai jembatan dari keduanya. Sistem informsi bisa dimanfaatkan oleh pelaku psikologi untuk membantu mereka saat penghitungan skor dalam beberapa tes psikologi.
Sumber :
Arbie, Erwan. Sistem informasi manajemen. (2000). Jakarta: Pustaka Pelajar
Hendi Haryadi.definisi indormasi.(2009).Jakarta : Visimedia.
http://www.artikata.com/arti-330712-informasi.html diakses pada tanggal 08 oktober 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/sistem diakes pada tanggal 08 oktober 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/psikologi diakses pada tanggal 08 oktober 2013.
http://www.anneahira.com/definisi-psikologi.html diakses pada tanggal 08 oktober 2013.
http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/ diakses pada tanggal 08 oktober 2013.
http://id.wikipedia.org/wiki/sisteminformasi diakses pada tanggal 08 oktober 2013.

date Selasa, 02 Oktober 2018



Terapi Keluarga
Menurut Kamus Webster keluarga adalah A social unit consisting of parent and the children they rear(sebuah unit sosial yang terdiri dari orang tua dan anak yang mereka asuh) atau A group of people related by ancestry or marriage(sekelompok orang yang dihubungkan oleh keturunan atau perkawinan).
Menurut WHO, keluarga adalah anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawinan.
Berdasarkan 3 definisi diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sebuah unit terkecil dalam kehidupan sosial dalam masyarakat yang terdiri dari orang tua dan anak baik yang terhubung melalui pertalian darah, perkawinan, maupun adopsi.
Menurut ahli keluarga yaitu Friedman(1998) menjelaskan bahwa keluarga dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya memiliki fungsi-fungsi dasar keluarga. Fungsi dasar tersebut terbagi menjadi 5 fungsi yang salah satunya adalah fungsi affektif, yaitu fungsi keluarga untuk pembentukan dan pemeliharaan kepribadian anak-anak, pemantapan kepribadian orang dewasa serta pemenuhan kebutuhan psikologis para anggotanya. Apabila fungsi affektif ini tidak bisa berjalan semestinya maka akan terjadi gangguan psikologis yang berdampak pada kejiwaan dari keseluruhan unit keluarga tersebut.

A.Pengertian Terapi Keluarga Pengertian Terapi Keluarga
Terapi Keluarga adalah cara baru untuk mengetahui permasalahan seseorang, memahami perilaku, perkembangan symptom dan cara pemecahannya. Terapi keluarga dapat dilakukan sesame anggota keluarga dan tidak memerlukan oranglain, terapis keluarga mengusahakan supaya keadaan dapat menyesuaikan, terutama pada saat antara yang satu dengan yang lain berbeda (Almasitoh, 2012). Sedangkan Imbercoopersmith (dalam Hasnidah, 2002) mengatakan bahwa Family Conselor/Therapist harus memliki kemampuan menganalisa bagaimana pola triadic di dalam keluarga, melakukan intervensi yang efektif bagi pola triadic dengan memberikan tugas-tugas, dan menghindari hubungan yang kurang baik antara hubungan triadic para anggota keluarga dengan professional. Namun Hasnidah (2002) berpendapat bahwa terapi keluarga sebagai suatu proses interaktif yang berupaya membantu keluarga memperoleh keseimbangan homeositas, sehingga setiap anggota keluarga dapat merasa nyaman (comfortable).

B.Konsep dan Prinsip Dasar
Terapi keluarga adalah model terapi yang bertujuan mengubah pola interaksi keluarga sehingga bisa membenahi masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern & Pinsof, 1986). Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya.
Terapi keluarga didasarkan pada teori system (Van Bertalanffy, 1968) yang terdiri dari 3 prinsip :
  • Pertama, adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan.
  • Kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain.
  • Ketiga, adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
Ketika masalah muncul, terapi akan berusaha untuk mengidentifikasi masalah keluarga atau komunikasi keluarga yang salah, untuk mendorong semua anggota keluarga mengintrospeksi diri menyangkut masalah yang muncul. Tujuan umum terapi keluarga adalah meningkatkan komunikasi karena keluarga bermasalah sering percaya pada pemahaman tentang arti penting dari komunikasi (Patterson, 1982).
Terapis keluarga biasa dibutuhkan ketika :
  1. Krisis keluarga yang mempengaruhi seluruh anggota keluarga
  2. Ketidak harmonisan seksual atau perkawinan
  3. Konflik keluarga dalam hal norma atau keturunan
C.Sejarah :
Penelitian mengenai terapi keluarga dimulai pada tahun 1950-an oleh seorang Antropologis bernama Gregory Bateson yang meneliti tentang pola komunikasi pada keluarga pasien skizofrenia di Palo Alto, California.
Pada pertengahan 1970-an, masyarakat prefesional mulai menganggap serius perspektif dan terapi keluarga. Sejalan dengan itu, buku-buku dan artikel-artikle bermunculan, begitu juga program pelatihan terapi keluarga (Gale dan Long, 1996)
Munculnya buku-buku semipopuler sejak tahun 1968 hingga 1992 memberikan pandangan dan proses yang melekat pada kehidupan perkawinan dan pasangan yang senantiasa berubah

D.Indikasi Pemberian Terapi
Terapi keluarga akan sangat bermanfaat jika digunakan pada kasus yang tepat. Indikasi terapi keluarga menurut Walrond Skinner adalah : “Gejala yang timbul merupakan ekspresi disfungsi dari sistem keluarga. Gejala yang timbul lebih menyebabkan beberapa perubahan dalam hubungan anggota keluargannya dan dapat merupakan masalah secara individual..”

E.Manfaat Terapi Keluarga
Manfaat untuk pasien yaitu mempercepat proses kesembuhan melalui dinamika kelompok atau keluarga. Memperbaiki hubungan interpersonal pasien dengan tiap anggota keluarga atau memperbaiki proses sosialisasi yang dibutuhkan dalam upaya rehabilitasinya. Jika dilakukan pada program rawat jalan diharapkan dapat menurunkan angka kekambuhan.
Manfaat untuk keluarga yaitu memperbaiki fungsi dan struktur keluarga sehingga peran masing – masing anggota keluarga labih baik. Keluarga mampu meningkatkan pengertiannya terhadap pasien/klien sehingga lebih dapat menerima, lebih toleran dan lebih dapat menghargainya sebagai manusia maupun terhadap potensi – potensinya masih ada. Keluarga dapat meningkatkan kemampuannya dalam membantu pasien/klien dalam rehabilitasi.

F.Efektifitas Terapi Keluarga :
Walau efektifitas dari terapi keluarga merupakan komponen penting dalam proses pemulihan klien, integrasi terapi keluarga memiliki tantangan sebagai berikut :
Ø  Pertama, terapi keluarga lebih kompleks daripada pendekatan non-keluarga karena lebih banyak orang yang terlibat.
Ø  Kedua, perlu keterampilan dan pelatihan khusus untuk terapi keluarga yang berbeda dari lainnya.
Ø  Ketiga, terapi keluarga selama ini sudah terbukti keberhasilannya

G.Pemberian Terapi Keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa
Keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga dipandang sebagai satu sistem sehingga gangguan yang terjadi pada salah satu anggota dapat mempengaruhi sistem, disfungsi dalam keluarga dapat sebagai penyebab gangguan.Berbagai pelayanan keperawatan jiwa bukan tempat klien seumur hidup.Salah satu faktor penyebab gangguan jiwa adalah keluarga tidak tahu cara merawat klien dirumah. Kenyataannya banyak klien di RSJ yang jarang dikunjungi keluarga, keluarga tdk mengikuti proses perawatan klien. Tim kesehatan jiwa di RS merasa bertanggug jawab terhadap upaya penyembuhan klien & jarang melibatkan keluarga. Setelah sembuh, RS memulangkan klien, beberapa hari, minggu, bulan klien kembali dirawat dengan alasan perilaku klien tidak bisa diterima oleh keluarga & lingkungan. Hal tersebut terjadi karena selama dirumah klien tidak boleh keluar & gerak-gerik klien selalu diawasi dan curigai. Keluarga mempunyai tangung jawab dalam Proskep di RS, persiapan pulang & perawatan dirumah,Adaptasi klien dengan lingkungan berjalan baik.Terapi keluarga ADALAH Suatu cara utk menata kembali masalah hubungan antar manusia (Stuart & Sundeen, 1991)
Ø  Adapun tujuan dari perawatan tersebut adalah  :
  1. Menurunkan konflik kecemasan keluarga
  2. Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing-masing anggota keluarga.
  3. Meningkatkan kemampuan penanganan terhadap krisis.
  4. Mengembangkan hubungan peran yang sesuai
  5. Membantu keluarga menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar anggota keluarga.
  6. Meningkatkan kesehatan jiwa keluarga sesuai dengan tingkat perkembangan anggota keluarga.
Ø  Manfaat Terapi Keluarga
  • Klien :
  1. Mempercepat proses penyembuhan
  2. Memperbaiki hubungan interpersonal
  3. Menurunkan angka kekambuhan
  • Keluarga :
  1. Memperbaiki fungsi & struktur keluarga
  2. Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien sehingga lebih dapat menerima, toleran & menghargai klien sebagai manusia.
  3. Keluarga dpt meningkatkan kemampuan dlm membantu klien dlm proses rehabilitasi
Ø  PERAN PERAWAT
  1. mendidik kembali dan mengorientasikan kembali seluruh anggota keluarga
  2. memberikan dukungan kepada klien serta sistem yang mendukung klien untuk mencapai tujuan dan usaha untuk berubah
  3. mengkoordinasi dan mengintegrasikan sumber pelayanan kesehatan
  4. memberi penyuluhan, perawatan di rumah, psiko edukasi,dll
Aktifitas :
  • Komponen dikdaktik : memberikan informasi & pendkes tentang gangguan jiwa, sistem keswa & yankep.
  • Komponen ketrampilan : latihan komunikasi, asertif, menyelesaikan konflik, mengatasi perilaku & stress
  • Komponen emosi : memberikan kesempatan untuk memvalidasi perasaan & bertukar pengalaman
  • Komponen proses keluarga fokus pada koping keluarga & gejala sisa terhadap keluarga.
  • Komponen sosial : meningkatkan penggunaan dukungan jaringan formal/informal untuk klien & keluarga
Selain Peran perawat yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana perawat membantu serta mendorong keluarga untuk terlibat dalam mencegah klien kambuh. Alasan keluarga dilibatkan dalam mencegah kekambuhan pada klien adalah :
  1. keluarga merupakan tempat individu pertama memulai hubungan interpersonal dengan lingkungan
  2. keluarga merupakan suatu sistem yang utuh dan tidak terpisahkan sehingga jika ada satu yang terganggu yang lain ikut terganggu
  3. keluarga menurut Sullinger(1988) merupakan salah satu penyebab klien gangguan jiwa menjadi kambuh lagi sehingga diharapkan jika keluarga ikut berperan dalam mencegah klien kambuh setidaknya membantu klien untuk dapat mempertahankan derajat kesehatan mentalnya karena keluarga secara emosional tidak dapat dipisahkan dengan mudah
Peran keluarga dalam terapi itu sendiri adalah :
  1. membuat suatu keadaan dimana anggota keluarga dapat melihat bahaya terhadap diri klien dan aktivitasnya
  2. tidak merasa takut dan mampu bersikap terbuka
  3. membantu anggota bagaimana memandang orang lain
  4. tempat bertanya serta pemberi informasi yang mudah dipahami klien
  5. membangun self esteem
  6. nenurunkan ancaman dengan latar belakang aturan untuk interaksi
  7. menurunkan ancaman dengan struktur pembahasan yang sistematis
  8. pendidikan ulang anggota untuk bertanggung jawab
ü  Ciri-ciri Fungsional Keluarga
  • Mempertahankan keseimbangan, fleksibel & adaptif perubahan tahap transisi dalam hidup
  • Problem emosi merupakan bagian dari fungsi tiap individu
  • Kontak emosi dipertahankan oleh tiap generasi & antar keluarga
  • Hubungan antar keluarga yang erat & hindari menjauhi masalah
  • Perbedaan antar anggota keluarga mendorong untuk meningkatkan pertumbuhan & kreativitas individu.
  • Orang tua & anak hubungan terbuka.
Kesimpulan
Salah satu bentuk intervensi Psikologi Keluarga adalah terapi keluarga. Terapi keluarga merupakan salah satu terapi modalitas yang melihat masalah individu dalam konteks lingkungan khususnya keluarga. Untuk dapat menajalankan terapi keluarga dengan baik diperlukan pendidikan dan latihan dengan dilandasi berbagai teoeri yaitu psikoterapi kelompok, konsep keluarga struktur dan fingsi keluarga,dinamika keluarga, terapi perilaku dan teori komunikasi.
Manfaat peran keluarga dalam proses terapi pasien dapat diperbesar melalui terapi keluarga. Dengan terapi keluarga diharapkan selain bermanfaat untuk terapi dan rehabilitasi pasien juga dapat memperbaiki kesehatan mental dari keluarga, termasuk tiap–tiap anggota keluarga dalam arti memperbaiki peran dan fungsi atau hubungan interpersonalnya.

DAFTAR PUSTAKA
Chaplin, JP. 1968. Dictionary of Psychology (Kamus Lengkap Psikologi). M: 355. Terjemahan oleh Dr. Kartini Kartono. 1981. Jakarta : Raja Grafindo.
Friedman, Marlyn M. 1998. Praktik Keperawatan Keluarga: Teori, Pengkajian, Diagnosa, dan Intervensi. Toronto: Appleton&Lange.
Hershenson, David B.; Power, Paul W.; & Waldo, Michael. 1996. Community Counseling, Contemporer Theory and Practice.
Kendall, Philip C. & Norton-Ford, Julian. Professional Dimension Scientific and Professional Dimension. USA, John Willey and Sons, Inc.
Massachusetts, A Simon & Scuster Company. Imbercoopersmith, Evan. 1985. Teaching Trainee To Think In Triad. Journal of Marital and Family Therapy, Vol.11, No.1,61-66.
Perez, Joseph F. 1979. Family Counseling : Theory and Practice. New York, Van Nostrand, Co.
Sundberg, D, Winebarger, A, Taplin, J. 2007. Psikologi Klinis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Wiramihardja, S.A. 2004. Pengantar Psikologi Klinis (Edisi Revisi). Bandung : Refika Aditama.
Yosef, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika Aditama.
https://rafian.wordpress.com/2016/06/22/terapi-keluarga-psikoterapi/
https://citraewardani.wordpress.com/2015/05/10/family-therapy-terapi-keluarga/

date Sabtu, 27 Mei 2017